Merapi Mengganas Lagi

TUJUH KALI: Awan panas membubung di puncak Merapi. Seharian kemarin, salah satu gunung api teraktif di dunia ini menyemburkan tujuh kali awan panas yang oleh warga seputar Merapi disebut wedhus gembel.(hermitianta/radar jogja)
SOLO – Prediksi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian Jogja akan ada letusan susulan Gunung Merapi, sebagaimana dilansir Kaltim Post Kamis (28/10) bukan isapan jempol belaka. Terbukti, aktivitas Merapi kemarin (29/10) makin mengganas.

Tercatat tujuh kali Merapi meluncurkan awas panas yang dikenal dengan wedhus gembel tersebut. Intensitas ini jauh lebih dahsyat dibanding saat letusan pertama Selasa (26/10) lalu. Di Indonesia, terdapat puluhan gunung berapi, satu di antaranya kini berstatus awas, dua siaga, 18 waspada. (Lihat Grafis).

Tak hanya itu, letusan kemarin merenggut nyawa satu balita. Bocah bernama Paimin (4,5 tahun), warga Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Magelang tewas di RSU Muntilan, Magelang. Bocah tersebut tewas diduga terkena abu vulkanik dampak dari awan panas yang terus keluar dari perut Merapi.

Dugaan ini terlihat dari hasil pemeriksaan dokter yang menangani. Paimin sebelum tewas mengalami gangguan pernapasan di pengungsian. Semula, Paimin bersama anak-anak dan lansia mengungsi di tempat pengungsian sementara (TPS) Dusun Sidomulyo, Desa Tlogolele. “Sebelumnya sudah kritis. Tapi keluarga tidak mau dirujuk ke rumah sakit. Setelah dirujuk ternyata meninggal,” kata Sinam Sutarso, salah satu anggota Tim Relawan Merapi ketika dihubungi Radar Solo (Jawa Pos Group) kemarin.

Sinam bersama tim relawan lain sengaja mengabdi di pengungsian perbatasan antara Boyolali-Magelang. Sebab, daerah tersebut merupakan wilayah yang paling terdampak bahaya Merapi.

RIBUAN MENGUNGSI

Sementara itu letusan susulan kemarin Merapi membuat ribuan warga Kecamatan Musuk dan Selo, Boyolali memadati ke tempat pengungsian sementara (TPS). Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 2.600-an jiwa. Dandim 0724 Boyolali Letkol (Arh) Soekoso Wahyudi mengatakan, evakuasi semula diprioritaskan pada manula, ibu hamil, dan balita.

Di Kecamatan Musuk, sekitar 1.200 pengungsi berdatangan dari Desa Jemowo, Beling, Dimoro. Warga mengungsi sejak Kamis malam di balaidesa Sangup, Musuk. Selain itu, pengungsi juga datang dari Dusun Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele jumlahnya 1.461 orang. Pengungsi dari Tlogolele tersebut diungsikan ke balaidesa dan Dusun Tlogomulyo.

Seharian kemarin (29/10), sedikitnya tujuh kali semburan awan panas membubung tinggi di dari puncak Merapi. Semburan awan panas ini terjadi sejak sekitar pukul 05.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB dengan jeda waktu rata-rata sejam. Petugas Pos 2 Pengamatan Merapi Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali Tri Mujianto mengatakan, awan panas susulan dari puncak Merapi mulai terjadi pukul 05.00 WIB.

Ketinggian awan panas ini sekitar 1,5 kilometer. Selang sekitar sejam kemudian, semburan awan panas kembali terjadi dengan sekala sedang. “Pukul 09.00 juga terjadi semburan awan panas,” terangnya, ketika ditemui di pos pengamatan.

Awan panas ini meluncur ke arah selatan dan barat atau ke hulu Kali Gendol. Daerah sisi utara (Boyolali) untuk sementara ini masih aman. Meski demikian, Boyolali terkena dampak abu vulkanik. “Hujan abu sempat terjadi di Desa Tlogolele dan sebagian di Desa Jrakah,” kata dia.

Meski jarak luncur cukup cepat di Kali Gendol, namun warga di wilayah Magelang dan sekitarnya tidak begitu berbahaya. Hanya dampaknya abu vulkanik yang membahayakan warga. Dengan kondisi ini pihaknya meminta warga tetap mengenakan masker sebagai pelindung.

Intensitas semburan awan panas ini mengalir di Kali Gendol dengan jarak luncur sekitar tiga hingga 3,5 kilometer dan ketinggian sekitar 1,5 kilometer. Awan panas terlihat sangat pekat bila dilihat dari Desa Samiran, dan Desa Jrakah, Kecamatan Selo.

Tri mengatakan, semburan awan panas diperkirakan masih terus terjadi hingga malam. Sebab, bila dilihat dari intensitas daya di perut gunung masih cukup tinggi. Catatan seismisitas di pos pengamatan, masih terus terjadi gempa guguran mencapai 87 kali. Sedangkan gempa multiphase masih mencapai 129 kali. “Gempa vulkanik B mencapai 16 kali sedangkan vulkanik A belum terjadi,” terangnya.

KORBAN TEWAS

Hingga kemarin (29/10), jumlah korban tewas akibat terkena awan panas Merapi pada Selasa (26/10) berjumlah 35 orang. Sementara dua warga Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman dilaporkan masih hilang.

Sarbini (60), warga Kinahrejo, mengatakan dua orang yang belum ketemu bernama Mringgo dan Giono. Menurut Sarbini, kedua tetangganya itu sedang mencari rumput untuk hewan ternak saat tragedi awan panas Merapi. “Saya sudah bolak-balik membantu tim evakuasi. Tapi dua orang itu tetap belum diketemukan,” ungkapnya.

Sarbini menuturkan, warga Kinahrejo tak menyangka awan panas bakal menimpa desa paling ujung Cangkringan itu sekitar pukul 17.02 WIB. Karenanya warga tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan sampai kemarin, meski tercatat tujuh kali Merapi kembali mengeluarkan awan panas, tetap saja banyak warga yang nekat kembali ke rumah masing-masing. Baik untuk mengambil barang atau mencari rumput.

Kapolda DIJ Brigjen Polisi Ondang Sutarsa membenarkan adanya laporan dua orang masih hilang. Ondang mengatakan, anggotanya beserta tim evakuasi telah menyisir wilayah Kinahrejo tapi tetap belum bisa menemukan dua orang yang dimaksud. “Akses medan sangat sulit karena tertutup pohon-pohon,” kata Kapolda.

Kendati begitu, proses pencarian tetap akan dilakukan oleh aparat. Menurut Kapolda masih ada dua lokasi yang belum disisir, yakni di sekitar lava tour dan Gedung Bundar Kaliadem.

Kembali turunnya awan panas sekitar pukul 09.00 WIB kemarin cukup menggegerkan para kuli tinta yang mangkal di posko utama penanggulangan bencana Merapi di Pakem. Kapolda hilang. Itulah kabar yang beredar.

Beberapa wartawan lantas mencoba mengontak Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti yang mendampingi Kapolda saat meninjau penyisiran korban di sekitar Kinahrejo. Ternyata Kapolda Ondang Suratsa dalam kondisi baik-baik saja.

“Saya tidak terjebak awan panas. Rekan-rekan saja yang panik. Saat awan panas saya turun pelan-pelan sambil membantu warga yang butuh pertolongan,” ungkapnya usai menerima bantuan dari Polda Metrojaya untuk disalurkan kepada para korban Merapi.(un/oh/nan/yog/jpnn).

Categories: Berita | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: